Aku dan realita hidup. Sebuah catatan kegalauan ketika harus memilih dan kemudian menentukan ini yang baik untuk dilakukan dan itu adalah hal yang harus ditinggalkan.
Gerakan mahasiswa sedang mengalami sebuah fase mengkhawatirkan. Pencitraan yang berlebihan akan gerakan-gerakan mahasiswa yang belakangan marak terjadi, seakan menjadi sebuah kegalauan tersendiri untuk para mahasiswa dan tentunya aktivis yang lantang bersuara kencang. Bagaimana tidak, berita-berita memojokan tentang gerakan mahasiswa yang anarkis dan selalu merusak sarana publik tentu menjadi sebuah pukulan telak. Berita-berita tersebut tentu dilain pihak adalah sebuah hal yang menguntungkan. Mereka yang tidak senang dengan gerakan mahasiswa ini kemudian seakan mendapatkan jalan untuk berusaha menjatuhkan mahasiswa dan pada akhirnya membuat masyarakat antipati terhadap generasi perubahan ini.
Entahlah, aku tidak ingin berdebat terlalu panjang tentang aksi-aksi anarkis yang belakangan terjadi, karena untukku cukup banyak faktor yang bisa menyebabkan semua itu terjadi yang mungkin tidak bisa dijelaskan dengan mudah dan akhirnya dapat dimengerti dengan mudah pula oleh sebagian masyarakat kita.
Banyaknya kasus-kasus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang merupakan ulah segelintir elit yang mengatasnamakan rakyat dengan memanfaatkan kebodohan dan keluguan masyarakat kita adalah sebuah hal yang harus terus menerus mendapatkan kawalan mahasiswa. Mahasiswa seharusnya bisa dipahami posisinya sebagai agen perubahan dan pengawal. Bayangkan andai tidak ada kaum intelektual ini, maka akan semakin mudahnya mereka, kaum elit bermasalah akan mengeruk dan merenggut semua hak-hak, semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik kita.
Tidak, aku tidak bermaksud membuat sebuah pembenaran dari semua aksi-aksi anarkis mahasiswa yang sedang marak terjadi. Aku hanya berusaha agar kita semua bisa memposisikan diri dan saling mengerti tentang posisi masing-masing. Benturan-benturan yang terjadi seharusnya bisa benar-benar dipahami bahwa hal yang dilakukan adalah dalam rangka menguak sebuah kebenaran yang sedang ditutup-tutupi, meskipun benar adanya bahwa sikap anarkis adalah hal yang tidak bisa ditolerir.
Katakanlah gerakan mahasiswa belakangan tidak lebih hanya sebuah gerakan merusak fasilitas publik, sebuah sikap narsisme demokrasi, tapi tolong jangan samaratakan semua itu dalam satu nama suci, MAHASISWA. Lihatlah kawan-kawan mahasiswa yang dalam perjuangannya benar-benar bersuara untuk kaum miskin papa, untuk segala ketertindasan, jangan nafikan mereka, jangan nafikan kami.
Realitanya aku bangga pernah dicap sebagai pemberontak saat dulu menyandang gelar mahasiswa. 4 tahun itu aku menghabiskannya dengan berkoar-koar tentang idealisme, sebuah jati diri yang ingin tetap kugenggam erat, disini, diantara kepalan kedua tangan. Meskipun belakangan terkesan ada yang ingin menggembosi fungsi-fungsi mahasiswa dengan mencitrakan mahasiswa sebagai seorang manusia yang tak lebih hanya berbekal nafsu anarkis dalam bersuara, namun tak mengapa. Setiap jaman punya ciri khasnya, terlebih soal peran-peran mahasiswa yang akan selalu dibutuhkan karena mahasiswalah generasi perubahan, generasi pengawal.
Dan aku, seorang lelaki yang terdampar pada fase pertengahan. Keluar dari remaja dan beranjak tua. “kamu sudah dewasa nak, sudah sarjana” begitu ibuku bilang. Sarjana? ada apa kiranya dengan gelar itu? sepertinya semua orang bangga sekali. Menenteng sebuah anamah dengan gelar yang disandangnya untukku adalah sebuah beban. semua ini menuntut aku untuk mencoba menemukan fakta-fakta lain untuk kemudian menjadikannya sebagai data-data penguat jati diri. Berharap menjadi seorang lelaki yang gagah, penuh pesona, penuh makna dan tentunya berguna untuk semua. “akh…ini semua realita”







0 komentar:
Posting Komentar