Jumat, September 28


Dalam pelayanan jasa, nilai dan kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang terlibat di dalam penyediaan pelayanan tersebut. Hal ini dikuatkan oleh Walker (1992) yang menyatakan bahwa sumberdaya manusia memiliki peranan yang sangat menentukan bagi pengembangan kualitas pelayanan, akan mengakibatkan tingginya variasi atas kualitas jasa yang dihasilkan. Pendapat tersebut sesuai dengan kenyataan, bahwa dalam proses bisnis pelayanan jasa yang lebih didominasi oleh manusia, hubungan antar sistem di dalam organisasi yang merupakan tercapainya kemampuan organisasi yang berkinerja tinggi, sangat membutuhkan pengelolaan sumberdaya manusia yang lebih baik pula.
Bisnis ritel merupakan keseluruhan aktivitas penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dan bukan digunakan untuk keperluan bisnis atau diproses lebih lanjut. Setiap perusahaan yang melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir baik produsen, grosir, maupun pengecer dapat dikatakan bertindak dalam bisnis ritel/eceran.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Perkotaan Pemda Kota Bandung bahwa industri ritel modern dalam bentuk swalayan tercatat telah mulai berkembang di Kota Bandung sejak akhir tahun 1970-an dan makin meningkat jumlahnya sampai dengan tahun 2003, saat ini yang tercatat ada sebanyak 82 ritel. Kehadiran ritel modern tersebut semakin dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin meningkat, seiring dengan perubahan pola gaya hidup dalam yang menuntut kenyamanan, bersih, cepat dan mudah.
Diantara sekian banyak jenis ritel yang beroperasi di Indonesia, maka yang akan mendapatkan sorotan yang hangat karena merupakan primadona bagi konsumen yang mempunyai kecenderungan untuk berbelanja dengan tingkat kenyamanan dan keamanan yang lebih baik adalah ritel modern swalayan.
Dalam kaitan dengan kehadiran ritel modern swalayan dengan segala kecenderungannya menjadi pemicu untuk dipelajari lebih lanjut dari berbagai prospektif. Selanjutnya beberapa jenis retail menurut Kotler (2003;521) adalah sebagai berikut :
1)
Specialty Store. Menjual lini produk yang sempit dengan ragam yang lebih banyak dalam lini tersebut toko pakaian, toko alat-alat olah raga, toko bunga dan toko buku. Toko khusus dapat diklasifikasikan lagi menurut tingkat kekhususan lini produknya. Toko pakaian merupakan lini tunggal, toko pakaian pria merupakan toko lini terbatas, dan toko pakaian pria pesanan merupakan toko sangat khusus.
2)
Department Store. (Toko serba ada) menjual lini produk tertentu seperti : pakaian, perabot rumah, dan perlengkapan rumah tangga yang masing-masing lini beroperasi sebagai suatu departemen tersendiri yang dikelola oleh penjual atau pedagang khusus.
3
3)
Supermarket (Pasar Swalayan) adalah usaha/opreasi yang relatif besar,volume penjualan tinggi, berbiaya rendah, margin rendah. Swalayan dirancang untuk melayani semua kebutuhan konsumen seperti makanan, binatu dan produk perawatan rumah tangga, dan lain-lain.
4)
Convenience Store (Toko kelontong), merupakan toko yang relatif kecil dan terletak di daerah pemukiman, memiliki jam buka yang panjang selama tujuh hari dalam seminggu, dan menjual lini produk convenience yang terbatas dengan tingkat perputaran tinggi.
5)
Discount Store (Toko Diskon), Menjual barang-barang standar dengan harga lebih murah karena mengambil margin yang lebih rendah dan menjual dengan volume yang lebih tinggi.
6)
Off-Price Retailer (Pengecer Potongan Harga) barang dagangan di beli pada harga yang lebih rendah daripada harga grosir dan menjualnya pada harga yang lebih rendah dari pada pengecer.
Jenis ritel modern yang akan dijadikan obyek dalam kajian lebih lanjut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Kotler di atas hanya terbatas pada pasar swalayan yang masuk kategori Supermarket. Oleh karena itu, pada pembahasan lebih lanjut akan digunakan istilah pasar swalayan, akan tetapi yang dimaksudkan adalah pasar swalayan yang masuk kategori Supermarket. Namun karena batasan pasar swalayan yang masuk kategori supermarket yang telah dikemukakan Kotler tersebut tidak begitu jelas batasan besarnya maka acuan yang digunakan lebih cenderung pada kriteria yang dilakukan oleh Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia).
Selanjutnya, penulis tertarik mengkaji eksistensi pasar swalayan dengan memfokuskan pada supermarket disebabkan karena supermarket berada pada posisi ditengah-tengah sehingga menghadapi tekanan persaingan dari sesama pasar swalayan seperti minimarket dan hypermarket, serta tekanan dari pasar tradisional dan ritel modern lainnya.
Besarnya minat pelanggan menggunakan pasar swalayan sebagai tujuan berbelanja karena cukup tersedia jaminan kualitas barang yang dibeli, ruangan nyaman ber AC serta barang yang akan di beli lebih lengkap. Hasil penelitian PD. Pasar Jaya Jakarta (1992), alasan konsumen berbelanja di pasar swalayan, diakibatkan adanya mutu barang yang terjamin dan adanya kepastian harga (91%), dapat berbelanja sambil rekreasi (90%), menghemat waktu (83%), dapat memakai kartu kredit (56%), keamanan berbelanja lebih terjamin (93%), penataan barang yang menarik (94%), serta dapat berbelanja di malam hari (94%). Sesuai pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh AC Nielsen Indonesia berbagai mencatat berbagai trend menarik tentang industri ritel dalam studi yang laporannya berjudul Shopper Trend 2003, menyatakan bahwa jumlah konsumen yang berbelanja di pasar swalayan cenderung meningkat terutama untuk konsumen yang hidup diperkotaan, selanjutnya hasil penelitiannya mengungkap pula bahwa untuk beberapa kategori barang pangsa pasarnya meningkat sekitar 25%. (AC Nielsen dalam M. Taufiq Amir,2004;16).
Berkaitan dengan maraknya persaingan yang semakin ketat, baik yang berasal dari perusahaan yang sama yakni pasar swalayan maupun dari ritel-ritel modern lainnya, ini menjadikan perusahaan
4
perlu mengelola lebih baik lagi dan dituntut kemampuan tertentu untuk tetap dapat mempertahankan diri dari berbagai tekanan yang dihadapi. Dengan kondisi inilah yang menjadikan penulis tertarik untuk meneliti tentang aspek kompetensi dan kompensasi yang dimiliki oleh karyawan yang berada di pasar swalayan. Kedua faktor tersebut sedang hangat sebagai isu yang sangat fenomenal di tanah air kita Republik Indonesia. Profesionalisme yang bersumber dari kompetensi masih menjadi sorotan hangat di kalangan berbagai pihak, dimana keterbelakangan dipandang sebagai penyebab dari kurangnya profesionalisme.
Selanjutnya faktor kompensasi juga menjadi sorotan hangat, karena sistem dan rendahnya kompensasi dipandang sebagai penyebab rendahnya motivasi kerja dan kinerja sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yang baik adalah yang mempunyai kompetensi sesuai dengan bidangnya, namun kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya tidak cukup tanpa didukung oleh kompensasi yang wajar. Sebagaimana diungkapkan oleh Hadari Nawawi bahwa pemberian kompensasi yang adil akan mampu memotivasi karyawan untuk berkinerja baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wiley bahwa kompensasi merupakan motivator terbaik dari sisi pegawai untuk menghargai suatu kompetensi. Sedangkan, hasil penelitian yang dilakukan oleh The American Compensation Association (Birdir,2000) mengemukakan bahwa 64% perusahaan menggunakan kompetensi sebagai dasar dalam penetapan kompensasi bahkan 90% sebagai penentuan kinerja. Sayangnya, belum banyak penelitian yang meneliti dan menganalisis secara simultan mengenai kompetensi dan kompensasi dalam kaitannya dengan peningkatan kinerja individu maupun organisasi.
Dalam upaya peningkatan kinerja pramuniaga, maka diperlukan standar yang dapat dijadikan ukuran atau kriteria kinerja pramuniaga terutama dalam pelayanan terhadap pelanggan. Pramuniaga dituntut mempunyai kompetensi agar kinerjanya akan berkontribusi terhadap pencapaian pangsa pasar yang besar yang selanjutnya menghasilkan outcome yang bermanfaat bagi kontinuitas pasar swalayan.
Berdasarkan kotak saran dan kartu komentar yang disiapkan oleh pihak manajemen tentang kekurangan/kelebihan yang ada pada pasar swalayan, didapatkan masih ada keluhan-keluhan yang bersumber dari pelanggan yang masih tidak puas akan pelayanan beberapa pasar swalayan, dan merupakan suatu fenomena, antara lain : 1) kurang tanggapnya pelayan (pramuniaga) atas barang dan informasi, 2) banyaknya tuntutan yang dilakukan oleh pelanggan karena barang yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggan, 3) penanganan kasir yang kurang terampil dari segi penggunaan teknologi, 4) penanganan sistem antrian yang belum memadai, 5) Sistem lay out barang dan display yang kurang tepat, 6) pramuniaga belum responsif terhadap kebutuhan pelanggan.
Karena itu, yang menjadi tema sentral dalam penelitian ini adalah dengan kompetensi pramuniaga yang sesuai dan didukung oleh pemberian kompensasi yang adil akan meningkatkan kinerja pramuniaga yang berdampak pada peningkatan pangsa pasar swalayan.
5
Sehingga dalam artikel ini, penulis bermaksud untuk mengungkapkan dan mendapatkan bukti empirik mengenai pengaruh kompetensi dan kompensasi terhadap kinerja pramuniaga serta dampaknya pada pangsa pasar, sehingga dapat dirinci sebagai berikut:
1.
Mengetahui karakteristik pasar swalayan, kompetensi, kompensasi, kinerja pramuniaga, dan pangsa pasar swalayan di Kota Bandung
2.
Mengetahui dan menganalisis kompetensi dan kompensasi terhadap kinerja pramuniaga pasar swalayan baik secara parsial maupun simultan.
3.
Mengetahui dan menganalisis pengaruh kompetensi dan kompensasi terhadap pangsa pasar swalayan baik secara parsial maupun simultan.
4.
Mengetahui dan menganalisis pengaruh kinerja pramuniaga pasar swalayan terhadap pangsa pasar.

sumber tri.gunarsih@yahoo.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube